Cerbung Senja part 1

Kartika menengadahkan tangannya, meminta petunjuk dari yang kuasa. Dua hari lagi, ia akan menikah lagi. Pernikahan kedua yang akan dilakukannya, setelah delapan belas tahun menyandang single parent bagi kedua buah hatinya. Dilangitkannnya doa-doa harapan akan kelangsungan rumah tangganya nanti. Berharap ini adalah pernikahan terakhir dan pendampingnya inilah yang akan bersamanya hingga akhir hayat.

Kartika berasal dari tanah Jawa, setelah menikah dengan Arif, dia diboyong ke Pulau Sumatera. Orang tua Kartika sudah meninggal dua tahun yang lalu. Sekarang ia benar-benar merasa sendiri, karena statusnya sebagai anak tunggal.

Usai menunaikan shalat malamnya, Kartika membuka kitab kecil dan mulai bersenandung lirih. Air matanya turun satu persatu membasahi huruf-huruf suci itu. Ini adalah tangis haru dan bahagia. Setelah hampir dua dasawarsa ia sendiri membesarkan buah hatinya, demi memenuhi semua kebutuhan hidupnya banyak hal telah ia lakukan. Menjadi pedagang online produk herbal, menjadi MC di acara-acara mulai dari tingkat RT sampai tingkat kabupaten. Alhamdulillah, status jandanya tidak menjadi ancaman bagi kaumnya. Pembawaannya yang sopan, tutur bahasanya yang tegas, membuatnya jauh dari istilah janda gat*l.  

Tidak terasa, azan pertanda subuh pun berkumandang. Kartika segera tegak melaksanakan kewajibannya pada Sang Pemilik Jiwa. Rutinitas rumah tangga lainnya segera dilakukan. 

"Bunda, jam berapa Kak Naila pulang?" tanya Faqih, putra bungsu Kartika.

"Insyaallah setelah ashar nanti, Dek. Adek sudah kangen ya?" goda Kartika.

Hubungan Faqih dan Naila memang dekat. Naila memilih melanjutkan pendidikan S1 nya di kota, sedangkan Faqih memilih pondok pesantren di kota kecamatan sebelah. Naila dan Faqih bergantian memberi perhatian kepada Bunda mereka, benar-benar anak yang berbakti. 

Ketika ayah mereka meninggal, umur Faqih baru enam bulan, sedangkan Naila sudah berumur lima tahun. Bisa dibayangkan betapa Kartika harus benar-benar kuat manjadi seorang single parent. Alhamdulillah ada harta peninggalan suaminya yang bisa diandalkan untuk kehidupan sehari-hari. Suaminya meninggalkan dua hektar kebun sawit dan sebuah rumah. Namun, rumah itu adalah rumah orang tua almarhum suaminya, jadi sewaktu-waktu iparnya menginginkan rumah itu, ia harus bersedia meninggalkannya. 

"Bunda, Faqih tahun depan insyaallah akan masuk ke perguruan tinggi. Ada tawaran beasiswa ke Mesir, Bun, baiknya Faqih ambil atau tidak, Bun?"

"Alhamdulillah, Faqih punya alasan untuk menolaknya?" tanya Kartika sambil mengerling ke arah anaknya.

"Bunda, Bundalah alasan Faqih berat untuk mengambil beasiswa ini. Kalau Faqih pergi, siapa yang akan menemani Bunda? Bukankah menjaga orang tua adalah tugas anak laki-laki?"

"Anak Bunda sudah dewasa, Faqih tidak perlu khawatir, bukankah insyaallah lusa, Bunda sudah ada yang menemani?"

"Justru itu, Faqih berpikir, Bunda akan hidup bersama orang baru. Mampukah Beliau menjaga dan membahagiakan Bunda?"

"Insyaallah, Bunda akan bahagia."

Kartika memeluk Faqih, sambil mengelus rambutnya.

"Terima kasih, Sayang! Sudah menjadi penyemangat dan penerang bagi kehidupan Bunda. Alhmarhum ayahmu pasti senang melihat anak-anaknya menjadi anak yang sholeh dan sholehah." 

"Semua yang ada pada Faqih dan Kak Naila adalah hasil dari doa dan ikhtiar Bunda."

"Alhamdulillah ya Allah, Engkau berikan titipan kepada hamba anak-anak yang sholeh dan sholehah."

"Bunda mau buat sarapan apa? Faqih bantu, ya!"

"Boleh, Sayang. Anak pondok biasanya pandai masak."

Kartika membuat nasi goreng. Setelah sarapan, Faqih segera membersihkan perkakas makan mereka. 

"Bun ...!"

"Ada apa Faqih?"

"Rencana Bunda, setelah menikah, kita tinggal dimana? Om Ali kan juga ada rumah sendiri."

"Faqih mau tinggal dimana?"

"Faqih boleh tinggal di rumah ini saja, Bun?"

"Boleh, sayang! Sekali-kali kita menginap di sini, ya!" 

"Baik, Bun. Terlalu banyak kenangan di rumah ini."

"Faqih harap bisa mendapatkan kasih sayang seorang ayah dari Om Ali."

"Insyaallah, Nak. Kita berharap yang terbaik."

"Lusa acara akadnya di KUA jam berapa, Bun?"

"Insyaallah pukul 09.00. Setelah akad nikah, kita langsung ke rumah Om Ali. Lusa, kita berangkat pukul 08.00."

"Jadi rombongan yang berangkat dari sini, sarapannya gimana, Bun?"

"kita semua sarapan setelah akad nikah di rumah makan Bersama. Jadi di rumah kita tidak ada acara."

Drrrt ... drrrt ....!

Suara hp Kartika di atas nakas. Ternyata Naila yang telpon.

[Assalamualaikum, Nak?]

[Waalaikumsalam, Bunda]

[Bun, nanti sore Naila tidak usah dijemput, travelnya bisa antar sampai alamat. Bunda dan Faqih tunggu Naila, ya!]

[Baiklah, kami tunggu Sayang. Hati-hati!]

[Siap, Bunda! Assalamualaikum]

[Waalaikumsalam]

"Assalamualaikum, Bu Kartika," sapa Bu Rasti, bu RT tempat Kartika berada.

"Waalaikumsalam, Bu Rasti, mari silakan masuk!"

"Terima kasih."

Setelah Bu Rasti duduk, Kartika segera ke belakang untuk menyiapkan suguhan untuk tamunya itu.

"Mari silakan diminum dan dicicipi kudapannya, Bu!"

"Waduh, Bu Kartika malah repot begini, saya kan jadi senang," jawab Bu Rasti sambil tersenyum ramah.

"Begini Bu untuk rombongan besok, sudah saya pastikan tadi sama Pak Mardion, satpam kita, yang berangkat besok ke KUA ada dua mobil. Bagaimana, Bu? Cukup?"

"Cukup, Bu. Dari pihak laki-laki juga dua mobil, kemarin dipesan orang KUA tidak boleh terlalu banyak."

"Baiklah kalau begitu, saya permisi! Insyaallah lusa rombongan sudah berkumpul di sini pukul 8.00."

"Iya, Bu, terima kasih. Diminum dulu, Bu! Ini kuenya saya yang buat, lho."

Bu RT pun minum dan mencicipi kue yang dibuat oleh Kartika. Setelah itu ia berpamitan.

Drrrt ... drrrt ...! 

Hp Kartika berdering, ternyata yang menelepon Ali, calon suaminya.

[Assalamualaikum, Dek!]

[Waalaikumsalam, Mas]

[Naila sudah sampai?]

[Belum, Mas, katanya tadi travelnya antar sampai alamat, mungkin sebentar lagi sampai.]

[Oo, baguslah kalau mau antar alamat. Bagaimana persiapan untuk acara kita?]

[Alhamdulillah, sudah dipersiapkan, rombongan dari sini juga dua mobil, Mas.]

[Mudah-mudahan lancar ya, Dek!]

[Iya, Mas. Besok pagi, rencananya kami mau ziarah ke makam almarhum suami. Mau ke makam almarhum orang tua, sudah tidak sempat.]

[Ya, sudah, gak apa-apa, lagian jauh. Yang penting doa selalu kita kirim untuk mereka.]

Ali lalu mengakhiri panggilannya. Namun, hp Kartika berbunyi lagi. Sebuah nomor tak dikenal.

[Hallo, Assalamualaikum]

[Waalaikumsalam, benar ini dengan Ibu Kartika? Orang tua dari Naila Wahidah?]

[Iya, betul, ada apa, Pak?]

[Ini kami dari pihak kepolisian sektor Kota Satu , bahwa anak Ibu sudah berada di kantor kami. Silakan datang ke kantor kami untuk kami mintai keterangan.]

[Sebenarnya ada apa, Pak? Ada apa dengan anak saya?]

[Nanti akan kami jelaskan di kantor, Bu. Kami tunggu kedatangan Ibu, terima kasih, selamat sore.]

Panggilan sudah ditutup, tapi Kartika masih saja belum sadar. 

"Ada apa sebenarnya dengan Naila? 

Kartika lalu membuat panggilan ke nomor Naila. 

[Hallo, assalamualaikum, Nak.] 

[Bunda! waalaikumsalam. Naila tidak bersalah, Bunda. Naila dijebak.]

[Maksud kamu?]

[Panjang ceritanya, Bun. Bunda datang ke kantor polisi sekarang, ya!]

[Baiklah, Bunda dan Faqih akan ke sana, assalamualaikum]

Kartika menutup teleponnya. Ada apa dengan Naila?


karya : Kamila ErKha Putri

Post a Comment

Previous Post Next Post

Iklan In-Feed (homepage)

" target="_blank">Responsive Advertisement