Kenapa lah sampai lupa menanyakan hal penting ini kepada Mas Ahmad. Kalau ditelepon pasti enggak diangkat, sebab Mas Ahmad melarangnya untuk menghubungi lebih dahulu.
Rasa penasaran Fatma semakin bertambah, apalagi tadi Mas Ahmad bilang akan ada yang disampaikannya. Apa Mas Ahmad minta putus, ya? Tuh kan ... jadi pusing kepala Fatma.
Lukman hari ini berada di Jakarta, mewakili Ustadz Azmi menghadiri acara syukuran di Pondok Pesantren Al Husna, milik Ustadz Hilmi. Sebenarnya, kedua pimpinan pondok pesantren itu punya maksud untuk memperkenalkan adik mereka. Ustadz Hilmi mempunyai adik perempuan yang baru saja pulang dari Kairo, dia baru saja menyelesaikan pendidikan S2 nya. Namun Ahmad yang mengetahui rencana Ustadz Azmi, meminta Lukman untuk mewakili Ustad Azmi. Ustadz Azmi tidak bisa hadir karena sedang masa penyembuhan, jadi tidak bisa melakukan perjalanan jauh.
Setelah acara utama selesai, dilanjutkan dengan acara ramah tamah. Ustadz Hilmi mengajak beberapa sahabat dekatnya yang diundang, termasuk Lukman yang mewakili Ustadz Azmi, untuk berkeliling pondok. Ustadz Hilmi mengajak mereka ke pusat kerajinan tangan para santri. Di sana sudah dipajang beberapa kerajinan tangan santri Al Husna.
Hari Senin, hari yang dinantikan Fatma pun tiba. Sudah beberapa hari, Randi berusaha menarik perhatian Fatma. Namun Fatma tidak tertarik sama sekali. Selesai jam terakhir, Fatma langsung ke Fakultas ISIP tempat janjian dengan Mas Ahmad. Sebenarnya Fatma lapar, tapi dia malas makan dekat kampusnya, karena pasti dikuntit Randi.
Ternyata Ahmad sudah datang duluan. Ahmad sudah tidak sabar untuk menyampaikan berita baik untuk Fatma. Lagian Ahmad juga jera membuat Fatma menunggu. Ah, beruntungnya Fatma, tak perlu dia menunggu lama.
"Assalamualaikum, Mas. Sudah lama?"
"Waalaikumsalam, Ci. Belum, duduklah!"
"Kenapa? Dari tadi ku perhatikan kamu selalu melihat ke belakang, ada yang mengikuti?"
"Eh, iya, Mas. Enggak maksudnya. Takut saja ada yang mengikuti. Akhir-akhir ini aku merasa kurang nyaman di kelas."
"Ada apa?"
"Aku nggak tahu ini memang benar atau hanya perasaanku saja. Ada teman sekelas ku yang sering memperhatikanku, bahkan dia sering meminta izin untuk pulang bersama bahkan pernah mau main ke kos."
"Sudah lama?"
"Belum, baru satu bulan terakhir ini."
"Sekarang kan sudah ada aku, tidak perlu takut."
Ahmad bukannya tidak tahu ada pria lain yang berusaha mendekati Fatma. Tapi selama tidak mengusik Fatma dan hati Fatma, Ahmad tidak akan mengambil tindakan.
Ketika mereka sedang terdiam dan sibuk dengan pikirannya masing-masing, tiba-tiba perut Fatma berbunyi.
"Kamu lapar, Ci?"
"He– iya, Mas." Wajah Fatma merah, menahan malu. Wah, perut nih memang enggak ada romantis-romantisnya. Bisa tahan suara kenapa. Haha perut memang tak bisa bohong.
"Kebetulan aku juga belum makan, yuk makan dulu. Kamu biasa makan dimana?"
"Di depan kampusku, Mas. Tapi tadi karena buru-buru jadi nggak sempat makan."
"Kalau gitu kita keluar, yuk. Kita cari makan di tempat lain."
"Bolehlah, tapi aku bawa kendaraan sendiri, Mas."
"Aku juga bawa kendaraan." Ahmad menunjukkan kuncinya.
Fatma terpana sesaat, kunci itu, kunci yang sama dengan yang Harun pegang. Nanti harus kutanyakan, bathin Fatma.
Akhirnya mereka memilih makan di luar kampus. Di rumah makan Padang. Ahmad sengaja memilih tempat yang tidak begitu ramai, apalagi jam makan siang sudah lewat.
Setelah makan, Ahmad mengajak Fatma ke perpustakaan. Ada buku yang ingin dicarinya.
"Ci, apa rencanamu nanti setelah lulus kuliah?"
"Aku pengen buka usaha, Mas."
"Maksudku, apa kamu mau pulang kampung?"
Fatma menatap Ahmad. Baru kali ini dia melihat jelas wajah orang yang selalu dirindunya itu. Ternyata Ahmad mempunyai hidung yang mancung, alisnya tebal, rahang yang kuat dan bibir yang menawan.
Sesaat mereka saling bersitatap, tapi Fatma segera memalingkan wajahnya.
"Kemungkinan besar aku pulang, Mas. Kecuali, ...." Fatma ragu melanjutkan ucapannya.
"Kecuali apa?"
"Kecuali aku menikah dengan orang sini, ada kemungkinan aku tinggal di sini atau kalau aku pulang kampung, ada peluang untuk kembali ke sini."
"Ci, bagaimana kuliahmu?"
"Kuliahku baik-baik saja, Mas. Aku sudah tidak banyak kelas lagi. Targetku semester depan lulus, Mas. Mas sendiri bagaimana?"
"Insyaallah semester ini Mas selesai, mudah-mudahan ujian skripsi besok lancar."
"Aamiin."
Ada binar bahagia di mata Fatma. Namun, tiba-tiba binar itu hilang.
"Mas, akankah kita masih bisa ketemu kalau Mas Ahmad sudah selesai kuliah?"
"Tentu masih, tapi bisa jadi pertemuan kita akan lebih jarang lagi."
"Mas enggak takut?"
"Takut apa?”
"Enggak takut ada pria lain yang menggoda aku?" kata Fatma dengan pedenya.
Ahmad tersenyum. Pertemuan kali ini berbeda dengan biasanya. Dia bisa melihat dari dekat rona bahagia di wajah Fatma. Wajar saja, baru kali ini durasi pertemuan mereka lebih dari tiga puluh menit.
"Bukan itu yang ku takutkan. Yang aku takutkan adalah ketika hatimu tergoda pria lain."
Fatma salah tingkah setelah mendengar ucapan Ahmad.
"Ci, setelah kuliah, aku akan magang di cabang perusahaan sahabat almarhum Abi. Kurang lebih tiga bulan aku tidak bisa pulang. Kamu keberatan?"
"Dimana, Mas?"
"Di Surabaya. Dulu Abi dan sahabatnya itu adalah sahabat karib. Mereka bersama merintis pondok pesantren yang sekarang dikelola Mas Azmi. Setelah Abi meninggal sahabatnya inilah yang menjadi donatur utama di pondok pesantren kami."
"Lalu sekarang dimana sahabat Abi itu sekarang."
"Beliau pulang kampung karena perintah orang tuanya. Orang tuanya ingin beliaulah yang mengurus hari tuanya."
"Masyaallah, benar-benar anak yang berbakti pada orang tua. Ayah dan ibuku juga memilih mengurus nenek dan kakek. Jadi di rumah kami ramai, karena kakek dan nenek dari ayah dan ibu tinggal bersama kami semua."
"Masyaallah. Aku juga berharap diberi kesempatan untuk mengurus orang tua,kata Ahmad.
"Jadi gimana, Ci? Kamu keberatan kalau aku pergi ke Surabaya?"
"Pergilah, Mas. Insyaallah aku tidak keberatan."
"Kalau ujianku lancar, bulan depan aku berangkat. Kalau setelah ini kita tidak ketemu, anggaplah ini sebagai kata pamitku. Kamu jangan berkecil hati, ya?"
"Andai aku berkecil hati, mungkin kita sudah tidak bersama lagi. Tidak mudah, Mas, menjalin kedekatan denganmu."
Ahmad tertawa. Diakuinya, bukan hanya Fatma yang merasakan itu. Dia pun sebenarnya sama. Namun dia takut kalau terlalu sering bertemu Fatma, dia takut tak bisa menahan diri.
"Maafkan aku, ya! Aku rasa kamu faham kenapa aku seperti ini."
"Iya, Mas."
"Sudah sore, kita pulang yuuk!" ajak Ahmad.
Fatma dan Aisyah masih mengikuti kegiatan mentoring pelatihan wirausaha. Beruntung mereka mengikuti kegiatan ini, karena kuliah mereka hanya tinggal sedikit. Jadi, bisa mengisi kekosongan waktu mereka.
"Ma, aku ada kegiatan kunjungan ke salah satu anggota kelompok yang sudah jalan usahanya."
"Wah, sama dong. Aku juga, aku ada kunjungan ke tempat Harun, di sana sudah ada usahanya, namun pemasarannya belum maksimal. Tapi masih bulan depan sih,” ucap Fatma antusias.
"Skripsimu gimana Ma?"
"Alhamdulillah penelitianku masih jalan. Mudah-mudahan semester depan bisa selesai lebih cepat. Mata kuliahku tinggal semester ini aja. Kamu sendiri gimana Ais?"
"Judulku belum disetujui."
"Aku juga dulu sampai beberapa kali pengajuan, kok. Ajukan lagi judul baru, jangan putus asa, ya."
"Iya, Ma terima kasih."
"Bu, ini ada kabar dari Surabaya."
"Dari Hamdan, Yah?"
”Iya, katanya anak almarhum Mas Huda, mulai bulan depan sudah mulai magang."
"Mudah-mudahan putra Mas Hamdan bisa segera menguasai ilmunya, ya, Yah."
"Iya, Bu. Biar dia bisa bantu Hamdan di sana."
"Oh, iya, Yah. Tadi malam Fatma telepon, katanya dia ikut pelatihan wirausaha."
"Baguslah, yang penting kegiatannya positif. Semangat belajarnya itu menurun dari ayahnya." Kata Pak Faisal sambil menepuk dadanya bangga.
karya : Enik Wahyuni
Post a Comment