Atau kendaraan Mas Ahmad sudah dijual kepada Harun? Ehmmm ... ini kemungkinan yang mendekati kenyataan. Kasihan dong Mas Ahmad kalau sampai jual motor. Waduh .... Bagaimana kalau nanti Mas Ahmad tidak bisa bertemu lagi dengannya.
Ih, Fatma mah pikirannya jauh kemana-mana. Kenapa tidak langsung tanya saja sama Harun.
Ketika Fatma hendak bertanya kepada Harun, seorang mentor datang ke kelompok mereka. Sepertinya sesi materi akan segera dimulai. Fatma mengurungkan niatnya. Perhatiannya difokuskan pada materi yang disampaikan oleh Pak Alfiansyah, mentor mereka.
"Ahmad! Akhir pekan ini kamu wakili Mas ke Jakarta, ya!" kata Azmi kepada Ahmad ketika mereka sedang berdua di ruangannya.
"Acara apa, Mas?" tanya Ahmad.
"Ada undangan syukuran di pondok sahabat Mas, acaranya hari Jumat. Di sana nanti kamu bisa melihat perkembangan usaha kerajinan tangan para santri."
"Baiklah, Mas. Kebetulan pekan ini aku kuliah sampai hari Kamis, jadi aku bisa langsung berangkat sorenya. Hari Sabtu sore aku bisa langsung balik ke Semarang."
"Sebenarnya, selain itu, Mas ingin mengenalkan kamu dengan adik sahabat Mas itu." Azmi memancing reaksi adiknya.
"Jangan mulai lagi deh, Mas."
"Ahmad ... Ahmad, sampai kapan kamu akan menjauhi kaum hawa? Sebentar lagi kuliahmu akan selesai, Mas berharap kamu nanti yang akan meneruskan memimpin pondok ini. Artinya, kamu butuh pendamping."
"Biar Lukman saja yang mewakili Mas ke Jakarta." Ahmad pun ke luar dari ruangan kakaknya.
Azmi menarik nafas panjang. Selalu berakhir seperti ini ketika menyinggung kaum hawa di depan Ahmad. Usia Ahmad sudah tak muda lagi, ia kuliah juga setelah beberapa tahun selesai dari sekolah lanjutan atas. Azmi tidak berusaha menjodohkan adiknya itu dengan adik sahabatnya. Azmi hanya ingin adiknya itu sedikit terbuka dengan sosok bernama wanita. Kalau masalah tanggung jawab terhadap tugasnya, Ahmad bisa diandalkan. Tapi kenapa Ahmad begitu sensitif begitu dia bermaksud mendekatkannya dengan salah satu santriwati, adik sahabatnya.
Ahmad ke luar dari ruangan kakaknya, lalu berjalan menuju rumahnya. Ditemui lah uminya yang sedang berbincang dengan Bude Asih.
"Ada apa, kok wajahnya ada mendung?" tanya umi Hanum.
"Wajah ganteng gini kok dibilang ada mendung, jangankan mendung, jerawat pun enggak ada." Ahmad berusaha bercanda agar uminya tidak mengetahui hatinya yang sedang sensitif.
Bude Asih segera pamit, memberi kesempatan ibu dan anak itu untuk saling berbagi rasa.
"Sembilan bulan lebih kamu dalam perut Umi, dua puluh tujuh tahun sekarang usiamu, dan selalu bersama Umi. Apa yang kamu rasakan, sedikit banyak akan Umi rasakan juga." Umi Hanum membelai anak bungsunya yang kini duduk di sampingnya.
"Umi, ceritakan lah bagaimana Umi dan Abi dulu sampai akhirnya menikah."
"Hei, gadis mana gerangan yang sudah mampu membobol dinding baja hati anakku?"
Ada semburat bahagia di wajah Umi Hanum. Sebagai seorang ibu, tentu saja Umi Hanum khawatir melihat anaknya begitu tertutup terhadap wanita.
"Jawab Umi, jangan balik tanya." Ahmad pura-pura cemberut.
Umi Hanum lalu menceritakan perjalanan kisahnya dengan sang suami. Ahmad memperhatikan dengan seksama. Abi dan uminya dulu adalah teman sekolah. Tidak ada istilah pacaran, yang ada hanya saling memendam rasa suka. Sampai akhirnya setelah lulus sekolah, abinya langsung menemui orang tua Umi.
"Apa keluarga kita dari kalangan santri semua, Um?"
"Tentu tidak," jawab Umi hati-hati.
"Siapa dia, Nak? Kenalkan pada Umi."
"Dia satu kampus dengan Ahmad, Mi. Tapi beda fakultas. Tapi dia dari pulau seberang."
"Jangan kamu permainkan anak orang!"
"Iya, Mi. Umi keberatankah, kalau Ahmad menjalin hubungan dengan Fatma? Gadis itu namanya Fatma."
Umi Hanum serius mendengarkan cerita putra bungsunya itu.
"Dia anak tunggal, Insyaallah anaknya baik, Um."
"Kalau kita ada acara, ajaklah dia ke sini. Umi ingin mengenalnya. Seberapa jauh hubunganmu dengan dia, Nak?"
"Kami hanya bertemu beberapa kali, itu pun ketemunya di kampus Um, tapi Ahmad sering memperhatikannya dari jauh."
"Nakal ya, anak Umi."
"Kalau perhatikanya dari dekat, takut khilaf, Mi"
Umi Hanum mengacak rambut putranya yang berbaring di pangkuannya itu.
"Selesai kuliah ini, boleh Ahmad menikahinya, Um?"
"Jangankan setelah kuliah, sekarang pun boleh," jawab Umi Hanum mantap.
"Beneran, Um," jawab Ahmad antusias, lalu terduduk.
Umi Hanum tertawa sambil mengangguk. Umi Hanum hanya mempunyai dua putra, Azmi dan Ahmad. Azmi memang sudah berkeluarga, tapi dia belum dikaruniai momongan. Umi Hanum tidak menampik kerinduannya terhadap tangisan seorang cucu. Siapa tahu dia akan lebih dahulu diberi cucu oleh Ahmad, jika dia sudah menikah nanti.
"Um, jangan jodoh-jodohkan Ahmad lagi, ya!" rengek Ahmad seperti anak kecil.
"Tidak ada istilah perjodohan dalam kamus Umi. Kamu lihat sendiri, Mas Azmi, dia juga mendapat jodoh karena pilihannya sendiri. Begitu juga dengan kamu nanti. Bagi Umi, kriteria calon menantu Umi, yang penting dia taat sama suami dan sayang sama keluarganya." Umi Hanum meraih kening Ahmad, lalu mengecupnya. Ahmad memeluk ibunya dengan erat. Lega rasanya sudah menceritakan isi hati yang selama ini dipendamnya.
"Lho, ada apa ini peluk-pelukan?" Azmi yang baru masuk rumah, heran melihat Umi dan adik semata wayangnya berpelukan.
"Sini, Nak!" Umi Hanum lalu memeluk kedua putranya.
Azmi yang masih bingung pun ikut memeluk kedua orang terkasihnya itu.
Fatma dan Aisyah baru saja pulang kuliah. Hari ini hari Jumat, biasanya Aisyah akan pulang ke rumahnya di kampung.
"Ais, nanti pulang jam berapa?"
"Aku nanti pulang setelah Ashar, ikut yuuk!"
"Ayo, aku rindu sama Mamak."
"Ya sudah, kamu bersiap dulu, ya! Aku mau ke tempat Mas Lukman dulu ambil pesanannya."
"Oke deh, hati-hati!"
Setelah Aisyah pergi, Fatma segera mengemasi perlengkapannya yang akan dibawa ke rumah Aisyah. Selesai berkemas, Fatma membereskan pakaian kotornya, lalu mengantarnya ke laundry. Biasanya Fatma mencuci sendiri, namun jika dia ada kegiatan atau menginap di tempat Aisyah, dia memilih melaundrykan pakaiannya.
Semua sudah siap, tapi Aisyah belum juga datang. Fatma memilih istirahat sebentar. Namun ketika dia akan memejamkan mata, hpnya berbunyi, ada pesan.
[Assalamualaikum, Ci.]
[Waalaikumsalam, Mas. Bagaimana kabarnya?]
[Alhamdulillah, kamu sehatkan?]
[Sehat, Mas.]
[Kapan kamu ada waktu luang?]
Fatma merasa asing, tapi juga senang. Tumben Mas Ahmad bisa berbalas pesan sampai panjang.
[Ada apa, Mas? Hari ini aku mau ikut Aisyah pulang ke kampungnya. Insyaallah kembali ke kos hari Minggu. Tapi kalau Mas Ahmad ada perlu, bisa ku batalkan.]
[Oohh ....]
[Biar ku batalkan saja ya, Mas.]
[Eh, jangan! Kita ketemu hari Senin saja, pulang kuliah di tempat biasa. Ada sesuatu yang ingin ku sampaikan.] Ahmad sudah mulai memakai aku.
[Baiklah, Mas. Beneran enggak apa-apa aku ke tempat Aisyah?]
[Enggak apa-apa, hati-hati di sana ya, Ci!"
[Iya, Mas. Assalamualaikum]
[Waalaikumsalam]
Fatma heran, ini adalah berbalas pesan terpanjang selama dia kenal dengan Mas Ahmad. Biasanya Mas Ahmad yang selalu menutup obrolan, tapi tadi Fatma lah yang mengakhirinya.
Bahkan, Fatma sampai lupa perihal gantungan kunci motor yang dibawa Harun Kemarin. Jangan-jangan perubahan Mas Ahmad ada hubungannya dengan berpindah tangannya kunci motor Mas Ahmad ke Harun.
Kenapa lah sampai lupa menanyakan hal penting ini kepada Mas Ahmad. Kalau ditelepon pasti enggak diangkat, sebab Mas Ahmad melarangnya untuk menghubungi lebih dahulu.
Rasa penasaran Fatma semakin bertambah, apalagi tadi Mas Ahmad bilang akan ada yang disampaikannya. Apa Mas Ahmad minta putus, ya? Tuh kan ... jadi pusing kepala Fatma.
karya : Enik Wahyuni
Post a Comment