Part 4
Pesona Mega
"Ya wajarlah, istrimu punya dua balita. Lha istriku hanya mengurusi Wira. Justru aku salut sama istrimu, Rif. Dalam kondisi sibuk pun dia sempat membuatkanmu bekal. Bahkan sering membuatkan cemilan untuk kita semua. Rumahmu bersih, pakaianmu rapi dan wangi, anak-anakmu terawat."
"Tapi tetap enggak enak dipandang, Rud."
"Kamu aja dulu ninggalin dia, dan beralih ke Mega juga karena Mega lebih mempesona kan?" lanjut Arif.
"Sudahlah, tidak perlu mengungkit masa lalu. Mungkin Rika memang sudah ditakdirkan menjadi jodohmu. Kamu tahu sendiri bagaimana ceritanya aku berpisah dengan Rika. Lagian, Rika dulu waktu masih dekat denganku dia itu pandai merawat diri."
Rudi berusaha menepis kenangan masa lalunya bersama Rika, yang sekarang menjadi istri Arif. Rudi meninggalkan Rika bukan karena kehadiran Mega, tetapi orang tua Rika lebih memilih Arif menjadi pasangan putrinya. Saat itu, Rudi hanyalah seorang pegawai serabutan. Sedangkan Arif adalah putra seorang pengusaha. Nasiblah yang mempertemukan mereka dalam sebuah proyek rumah makan. Arif mengerjakan bangunannya, sedangkan Rudi mengerjakan bagian interiornya.
"Kalau bicara zaman dulu, ya jelas lebih menarik Rika daripada Mega."
"Nah, jadi kamu ikut andil dong, atas ketidakmenarikan istrimu. Aku tahu kesibukan wanita itu bagaimana, makanya aku tidak pernah menuntut yang berlebihan pada istriku. Karena, istriku pun tidak pernah menuntut, selain perhatianku," jawab Rudi.
"Ya, wajar, dong, aku menuntut sama istri. Aku seharian kerja, ketika pulang, eh dapat pemandangan yang tidak menyedapkan." Arif masih berusaha membela diri.
"Beruntung, aku sempat mendampingi ibuku selama ini. Jadi aku tahu bagaimana repotnya menjadi seorang ibu rumah tangga, apalagi yang sedang merawat balita. Nampaknya sekali-kali kamu perlu bertukar peran dengan istrimu!" Rudi menepuk bahu Arif, lalu bangkit untuk kembali bekerja.
😍😍😍
Mak Surti mengerjap-ngerjapkan matanya. Jarum jam di kamarnya sudah menunjukkan jam satu siang. Rupanya lama juga beliau tidur. Segera Mak Surti bangun untuk menunaikan kewajibannya pada Sang Pencipta.
Setelah Shalat, Mak Surti hendak makan, setelah puas mengistirahatkan badan dan pikirannya, sekarang perut Mak Surti yang minta jatah.
"Wah, tumben Mega Mendung mau menutup rapat pintu dapur ini. Syukurlah, selamatlah ikan pindang ku dari endusan kucing-kucingnya itu."
Sambil mengambil nasi, Mak Surti berdendang lirih.
"Pelas teri dibuntel godong, seng tak tresnani digondol uwong, ...."
Tapi begitu melihat isi dalam ember beras, dendangnya menjadi lebih ngerock. Sambil membawa piring berisi ikan panggang.
"Angge angge orong orong, iwak panggang digondol uwong!"
"Mega Menduuuuung! Ternyata endusanmu lebih tajam dari kucing-kucingmu!"
Nafsu makan Mak Surti langsung hilang. Dipandanginya ikan panggang yang tinggal tiga ekor. Rencananya sebagian ikan itu untuk bekal Rudi besok pagi. Kalau sudah seperti ini, berarti besok pagi dia harus masak lagi.
"Begini amat punya menantu," kata Mak Surti sambil menyuapkan nasi ke mulutnya. Mau tidak mau, dia harus tetap makan. Untuk menghadapi ulah menantunya, ia butuh asupan gizi agar bisa berpikir jernih.
Sementara di samping rumahnya, sang menantu sedang tertidur pulas bersama cucu semata wayangnya.
😍😍😍
Pak Hasan, bapaknya Mega, sedang bercengkerama dengan istrinya, Juwita.
"Bu, Bapak kok kangen ya sama Wira."
"Iya, Pak. Ibu juga kangen, sudah dua Minggu enggak gendong cucuku yang ganteng itu."
"Besok kita ke sana ya, Bu. Sekalian kasih jatah bulanannya Mega."
"Iya, Pak. Ibu juga mau kasih sembako sama besan. Pasti Mak Surti seneng kalau kita datang. Aku bisa merasakan bagaimana jadi Mak Surti. Bapak sendirikan tahu, bagaimana kelakuan anak kita itu," kata Bu Juwita.
"Iya Bu," jawab Pak Hasan sambil mencukur kumisnya.
"Bu, garukan kumisku kok baunya asem, ya. Seperti bau keringatmu." Pak Hasan mengendus garukkan kumisnya.
"Asem apanya to, Pak. Ibu lho sudah pakai deodorant yang pakai bunga Kamboja, kok garukannya masih bau asem Yo, Pak."
"Maksudmu, garukan ini kamu pakai untuk mencukur ketimu, Bu?"
"He, iya Pak. Kenapa? Tapi Ibu bangga lho, Bapak ingat aroma Ibu." Bu Juwita terkikik, sementara Pak Hasan cemberut.
"Kelakuanmu seperti ini yang menurun sama anak kita."
"Bagus, dong, Pak. Memang kecerdasan anak itu menurun dari ibunya." Juwita tertawa bangga.
"Bagus apanya, Bapak yang pening."
"Untung cinta." Bu Juwita semakin menggoda suaminya yang mulai mual dengan aroma garukan kumis.
😍😍😍
"Mas, bangun dong. Katanya mau jalan-jalan." Mega mengguncang bahu suaminya yang sedang terlelap. Kebiasaan Rudi setiap hari libur, pasti dia akan tidur lagi selepas subuh, di kamar Wira.
Rudi hanya menggeliat, lalu terlelap lagi. Begitu berulang kali. Mega mulai jengah, akhirnya dia dapat ide. Mega lalu ke luar kamar. Dicarinya putra semata wayang yang sedang asyik main sepeda di depan rumah.
"Wira, sini, Nak!"
"Ada apa, Bu?
"Wira mau enggak jalan-jalan ke mall?"
"Enggak, Bu," jawab Wira acuh.
"Wira pengen berenang di wahana?"
"Enggak, Bu. Kan sudah pernah." Wira asyik mengayuh sepedanya.
Mega garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Tapi Mega tidak putus asa.
"Wira pengen apa?"
Wira menatap ibunya, aneh. Tidak biasanya ibunya seperti ini.
"Wira pengen makan, Bu, lapar."
"Nah, kalau Wira lapar, Wira bangunkan ayah, ya! Nanti kita makan ayam goreng kriuk di mall."
"Asyik ...."
"Alhamdulillah, Wira sekarang bangunkan ayah, ya!" Mega tersenyum penuh kemenangan. Rudi pasti akan bangun kalau Wira yang membangunkannya.
Tanpa menunggu jawaban dari Wira, Mega segera masuk ke rumah. Ia segera menyiapkan pakaian untuk mereka bertiga. Inilah kelebihan Mega, dia selalu bisa memilihkan pakaian yang matching untuk keluarganya. Bahkan, pakaian Mak Surti pun acap kali Mega yang memilihkan. Menantu idaman, bukan?
Mega bergegas membersihkan dirinya. Tadi sih dia sudah mandi, tapi Mega selalu mandi lagi setiap ada acara keluar dengan keluarganya. Selesai mandi, lalu dikenakannya pakaian yang tadi disiapkan. Berputar tiga kali di depan cermin, kalau-kalau ada yang tidak pas dalam penglihatannya.
Urusan pakaian selesai, Mega segera bersiap, peralatan tempur make up nya sudah berjajar rapi di meja riasnya. Tangannya lincah memainkan semua peralatan itu. Dalam sekejap, wajahnya sudah berwarna-warni. Permainan paduan warna yang mempesona. Tidak salah kalau Arif sempat terpesona padanya.
Berikutnya adalah tas, dipilih tas yang sesuai dengan pakaian dan kegiatan. Mega lebih memilih tas yang ada tali panjangnya, jadi bisa disangkutkan di bahunya. Kenapa? Supaya tangannya leluasa menggandeng suaminya. Uhuyyy ... jomblo jangan baper, ya.
Urutan selanjutnya, alas kaki. Untuk kegiatan keluarga yang bersifat santai, Mega memilih memakai sandal jepit teplek, supaya mudah melangkah, menuju masa depan yang bahagia. Uhuuuk.
Semua sudah beres, saatnya mengganti pakaian Wira. Mega tadi sudah memandikan Wira, tinggal ganti baju saja sudah beres.
Mega ke luar kamar, dilihatnya suasana ruangan tengah sepi, di dapur sepi, di kamar mandi belakang sepi. Mega lalu ke luar, ternyata Wira tidak ada. Segera Mega berlari ke kamar anaknya, ternyata ....
Ternyata apa, ya ...?
Post a Comment