Cerbung Cintanya dari mas santri part 3

Part 3

Fatma Senang, Ahmad Cemburu

Karena malu banyak orang yang lalu lalang, Fatma buru-buru menghapus air matanya. Ia beranjak, berjalan terburu-buru. Fatma yang biasanya kuat, saat ini butuh penyangga. Sambil mendekap buku, sekali-kali tangannya menghapus air mata yang tidak juga berhenti mengalir. Tiba-tiba ia menabrak seseorang yang sengaja berhenti di depannya. 

"Mas, Ahmad?" lirih Fatma. Ia berusaha meneruskan langkahnya, namun selalu dihadang oleh Ahmad.

"Maafkan saya ya, Ci!"

Fatma berlari menuju mushala yang tidak jauh dari mereka berdiri. Ia ingin membasuh mukanya. Ia tidak ingin terlihat kacau di depan Ahmad. Paling tidak ia terlihat tegar, tidak cengeng seperti sekarang. 

Sambil menunggu Fatma keluar, Ahmad membeli air minum. Setelah mendapatkan dua botol air mineral, Ahmad mencari tempat duduk. Berharap Fatma segera keluar. 

"Ci ... Ci!" Ahmad melambaikan tangannya begitu melihat Fatma keluar dari tempat wudhu wanita. 

Fatma ragu untuk mendekati Ahmad. Melihat keraguan Fatma, Ahmad pun menghampirinya. Diberikan satu botol air mineral yang dibelinya tadi. 

"Duduk sana yuuk, Ci!" ajak Ahmad sambil menunjuk tempat duduk di depan kampus Fisipol.

Mereka jalan seperti kereta api, Ahmad di depan, sedangkan Fatma di belakang. 

"Kenapa tidak datang, kenapa tidak ada kabar, kalau nggak bisa menepati janji, lebih baik tidak usah berjanji!" Fatma memberondong Ahmad dengan pertanyaan.

Ahmad hanya tersenyum. Biasanya, Fatma tidak banyak bicara di depannya. Tapi sekarang, gadis cantik di depannya itu mengeluarkan simpanan perbendaharaan katanya. 

"Dengar, Ci! Saya tadi sudah datang, bahkan lebih dulu dari kamu. Begitu saya lihat kamu memakai rok, Masyaallah, saya terpana. Saya menikmati keindahan ciptaan Allah dari jauh, mau mendekat takut khilaf. Begitu saya sudah mampu menguasai perasaan saya, dan saya hendak menemui mu, eh ... kamu sudah pergi. Dipanggil-panggil tidak dengar, terpaksa saya menghadangmu. Sekian penjelasan saya. Saya minta maaf, ya!"

Fatma canggung setelah mendengar penjelasan Ahmad. Ternyata Fatma telah terbawa perasaan, disangkanya Ahmad lupa dengan janjinya.

"Iya, saya juga minta maaf." Suara Fatma sudah melunak.

"Maaf untuk apa?" tanya Ahmad sambil mengerutkan dahinya. 

"Maaf sudah berprasangka yang tidak-tidak."

"Iya, sama-sama. Saya suka Cida penampilannya lebih feminim." Ahmad memperhatikan jam di pergelangan tangannya. Fatma memperhatikan gerakan Ahmad dengan wajah cemberut.

"Ada acara lagi?"

"Ehm ... masih lima menit lagi," jawab Ahmad ragu. Dia tidak enak dengan Fatma, selalu dia yang pergi dulu setiap ketemu.

"Kalau ada janji, jangan biasa telat, kasihan yang sudah menunggu." Fatma berbicara sambil memalingkan wajahnya, menghindari tatapan Ahmad. 

"Insyaallah saya selalu tepat waktu."

"Biasanya juga kalau janji sama Fatma selalu terlambat?"

"Bukan terlambat, Ci, tapi sengaja ingin berlama-lama menatapmu dari jauh." Ahmad tergelak.

"Ooooh ... begitu, ya. Baiklah sekarang saya tidak mau ketemu lagi." 

"Apa enggak takut?"

"Takut apa?" tanya Fatma penasaran.

"Rindu," jawab Ahmad sambil mengerlingkan matanya. 

Fatma mencebik kesal, wajahnya terasa panas. Mungkin saat ini wajahnya sudah seperti udang rebus.

"Enggak lucu!"

"Memang tidak lucu, tapi rindu." Terus saja Ahmad menggoda Fatma.

"Kalau ada acara, pergilah! Rindu itu berat, kamu tidak akan kuat, biar Dilan saja!" Fatma tertawa lepas, sepertinya dia sudah melupakan kejadian tadi yang membuatnya menangis.

Setelah memastikan Fatma baik-baik saja, Ahmad pun pamit. Dia sudah terlambat lima belas menit, namun dia sudah meminta Lukman untuk menggantikannya sementara, menghadiri pertemuan dengan Pak Ismail, pemilik rumah makan, yang berencana akan menjadi donatur untuk konsumsi santri. 

"Hati-hati! Insyaallah nanti malam saya telepon. Assalamualaikum!" Ahmad meninggalkan Fatma sendiri dalam keramaian  hilir mudik mahasiswa

"Waalaikumsalam." 

❤️❤️❤️

Drrt ... drrt ...!

Dering hp Fatma berbunyi. Dengan cepat Fatma meraih hpnya, yang sejak tadi sengaja digenggamnya. Ya, karena tadi Ahmad berjanji akan menghubunginya. 

Ternyata dari nomor baru.

"Lho, kok nomor baru, sih? Mas Ahmad pakai nomor siapa?" Fatma berbicara sendiri, heran, ketika yang menghubunginya bukan nomor Ahmad.

"Bisa jadi, Mas Ahmad pakai nomor temannya." Positif thinking aja, Fatma lalu mengangkat panggilan yang sudah berbunyi dari tadi.

[Assalamualaikum, Mas Ahmad pakai nomor siapa?]

[Waalaikumsalam Fatma]

[Lho, bukan Mas Ahmad. Maaf ini dengan siapa, ya?]

[Dengan siapa, ya? Ini Mas Lukman, Fatma]

[Oh, Mas Lukman, maaf, Fatma kemarin belum save nomor Mas Lukman]

[Tidak perlu save nomornya, save namanya saja di hati Fatma!]

[Mas Lukman apaan sih! Ada apa Mas? Ada yang bisa Fatma bantu?]

[Tadinya mau menghubungi Aisyah, tapi tidak diangkat, jadi Mas menghubungi Fatma.]

[Aisyah mungkin lagi ngajar, Mas. Biasanya hpnya di silent, lepas isya dia baru sampai rumah. Ada pesan?]

[Nanti tolong sampaikan Aisyah, Kalau Aisyah besok pulang kampung, suruh tunggu Mas. Mas mau nitip sesuatu untuk orang tua di rumah.]

[Siap, Mas. Insyaallah Fatma sampaikan. Ada lagi?]

[Eh, Ahmad itu siapa?]

[Ih, Mas Lukman kepo, deh.]

[Ehm ... ada teman Mas, namanya  Ahmad juga.]

[Banyak lho Mas yang namanya Ahmad, bukan teman Mas Lukman aja yang namanya Ahmad. Teman Fatma juga ada.] Fatma tertawa mendengar keingintahuan Lukman. 

[Sudah dulu ya, Mas, ada telepon masuk, nih,] sambung Fatma.

[Baiklah, assalamualaikum.]

[Waalaikumsalam.]

Ternyata yang masuk telepon Ahmad.

[Assalamualaikum, Ci!]

[Waalaikumsalam, Mas. Maaf ya, tadi ada yang telepon.]

[Lumayan lama ya teleponnya, dari orangtua di rumah?] tanya Ahmad.

[Bukan, Mas. Dari sepupu Aisyah.]

[Laki-laki?]

[Iya, Mas]

[Kenapa sepupu Aisyah telepon kamu, Ci. Lama lagi. Kenapa enggak telepon Aisyah langsung!] Dari nada suaranya, nampak Ahmad tidak suka, ada laki-laki lain yang menghubungi Fatma.

Sementara Fatma senyum-senyum sendiri mencium ada aroma cemburu dari suara Ahmad. Memang perempuan itu perlu dicemburui agar bahagia. Hahaha ... bener kan? Hayo, cung yang setuju!

 [Tadi, dia sudah telepon Aisyah, tapi enggak diangkat, jadi dia telepon Fatma, karena ada titipan untuk orang tuanya.] Fatma berusaha menjelaskan.

[Mas ... Mas!] Fatma berkali-kali memangil, namun tidak ada jawaban. Mungkin dia sedang berbicara dengan orang lain. Fatma positif thinking lagi. 

Sementara di seberang sana, Ahmad sibuk menenangkan hatinya, menepis kekhawatirannya. Walaupun ia jarang berkomunikasi atau bertemu dengan Fatma, tapi ia benar-benar sangat menyayangi Fatma.  Tidak dipungkiri, rasa cemburu itu ada. 

[Ci, sudah dulu, ya! Saya ada urusan.]

[Sudah saya duga,] lirih Fatma. 

Meski lirih, Ahmad mendengarnya. Ada rasa bersalah, tapi ia sadar, semakin sering ia berkomunikasi dengan Fatma, maka itu akan menjadi candu, yang akan semakin meningkat setiap waktunya. Biarlah ia menjaganya dari jauh. Tidak jarang, Ahmad mengawasi kegiatan Fatma dari jauh. Kepolosan dan kekonyolan Fatma memang alami, tidak dibuat-buat. 

[Cida, segera istirahat, ya! Assalamualaikum]

[Waalaikumsalam] 

Setelah menghubungi Fatma, Ahmad merasa bersalah dengan hubungan itu. Sebenarnya, ia ingin menghalalkan Fatma segera, namun ia ingin menyelesaikan kuliahnya dulu. 

Ahmad tidak bisa menyalahkan cinta yang hadir di hatinya untuk Fatma. Ini adalah cinta pertamanya. Teman-teman, bahkan keluarganya tidak tahu kalau dia sedang menjalin kedekatan dengan seseorang. Karena selama ini ia dikenal sangat menjaga jarak dengan kaum hawa. 

❤️❤️❤️

Setelah Ahmad memutuskan sambungannya, Fatma segera menunaikan kewajibannya pada yang Kuasa. Aisyah belum juga datang. Sambil menunggu Aisyah, Fatma memainkan ponselnya. Ia menyimpan nomor Mas Lukman.

Ting ...!

Sebuah pesan masuk, dari nomor baru.

[Hadirmu selalu ku rindu]

Hayo ... hayo ... siapa lagi ini yang datang hendak mengetuk hati Fatma?

Akankah Fatma goyah atau semakin gagah memegang cintanya untuk Ahmad?

karya : Enik Wahyuni

Post a Comment

Previous Post Next Post

Iklan In-Feed (homepage)

" target="_blank">Responsive Advertisement