Part 2
Benih Cinta Lain untuk Fatma
Sampai di tempat tujuan, Aisyah memakirkan sepeda motornya.
Bruuuk ...!
Aisyah melihat ke belakang, dilihatnya Fatma tersungkur, roknya tersangkut, hampir saja ia tengkurap sempurna kalau saja tidak ada seseorang yang menolongnya.
Ehmmm ... Kira-kira siapa ya yang menolong Fatma?
"Maaf, Dek! Lain kali lebih hati-hati, itu roknya tersangkut!"
"I ... iya, Mas. Terima kasih." Fatma mengulurkan tangannya hendak bersalaman.. Namun pemuda di depannya itu membalas dengan menangkupkan tangannya. Fatma pun langsung mengikutinya.
Suara seseorang itu seperti tidak asing di telinga Aisyah.
"Mas Lukman! Apa kabar?" seru Aisyah.
Pemuda yang merasa namanya dipanggil itu segera mencari sumber suara.
"Aisyah, Alhamdulillah baik. Sama siapa ke sini?"
"Sama ini teman aku Fatma. Untung ada Mas Lukman, kalau enggak entah bagaimana nasibnya," cerocos Aisyah.
"Ooh ... jadi yang jatuh ini Fatma namanya, teman Aisyah?"
"Iya, Mas" Aisyah mengangguk.
"Ayo duduk di sana, enggak enak ngobrol sambil berdiri!" Lukman menunjuk sebuah gerai makanan dan minuman yang ada di seberang tempat mereka berdiri.
"Mas Lukman sendirian?" Selidik Aisyah sambil celingukan.
"Tadi berdua dengan teman, tapi dia sudah pergi, katanya ada urusan. Aisyah dan Fatma ini teman satu kos?"
"Iya, Mas. Dia sering lho aku ajak pulang kampung. Bahkan pernah ku ajak ke rumah Mas Lukman. Tapi enggak pernah ketemu Mas. Maklumlah Mas Lukman orang sibuk," terang Aisyah.
"Fatma, Mas Lukman ini sepupu aku. Anaknya Bude Darmi, yang dulu kamu pernah kuajak ke rumahnya itu, yang katanya pengen jadikan kamu menantunya."
Wajah Fatma memerah mendengar penjelasan Aisyah yang enggak pakai saringan itu.
"Be ... berarti yang diceritakan Bude Darmi itu Mas Lukman?" bisik Fatma di telinga Aisyah.
"Iya, bagaimana, ganteng kan?" Aisyah memainkan alisnya untuk menggoda Fatma.
Lukman bingung dengan kedua gadis yang ada di depannya itu, memang enggak ada akhlak ya, ngegibahi orang di depan mata.
"Ehheeem ...!" Lukman berdehem.
"Maaf, Mas! Aku masuk sebentar ya mau beli buku. Sebentar saja!" Aisyah pamit masuk ke toko buku.
Fatma ditinggal berdua dengan Lukman. Karena gerai makanan itu ramai, Fatma tidak terlalu risau, paling tidak masih ada yang ketiga, keempat, dan seterusnya, dan itu bukan setan.
"Jadi Fatma sering di ajak Aisyah ke rumahnya? Memang rumah Fatma dimana?"
Lukman memulai obrolan agar suasana mencair.
"Fatma dari Sumatera, Mas. Aisyah selalu mengajak Fatma ke rumahnya setiap dia pulang, tapi kadang-kadang Fatma menolak."
"Kenapa? Memang enggak sepi kalau ditinggal Aisyah pulang?"
"Kalau ikut Aisyah terus, Fatma enggak enak sama orang tuanya, makan Fatma banyak, Mas."
Mendengar jawaban Fatma, hampir saja Lukman menyemburkan minuman di mulutnya, karena tertawa.
"Fatma ... Fatma, kamu itu lucu atau lugu sih?"
"Heehe maaf, Mas. Bawaan lahir mungkin Mas."
"Sudah belum ngobrolnya? Kalau sudah pulang yuuk, Ma. Sebentar lagi Maghrib!" ajak Aisyah yang sudah menenteng sebuah paper bag berisi beberapa buku.
"Eh, iya Mas, kami mau pulang," jawab Fatma.
"Kos kamu masih di tempat yang lama kan Ais?" tanya Lukman.
"Sudah pindah, Mas. Kos yang kemarin sering banjir," jawab Ais.
"Minta nomor wa kamu Ais," tanya Lukman sambil mengeluarkan hpnya.
"Lah, kan sudah punya nomor Ais, perasaan baru dua hari yang lalu deh, Mas Lukman telepon Ais," jawab Aisyah heran.
"Oh, iya ... ya." Lukman gugup, namun tidak juga menyimpan hpnya.
"Ehm ... Mas Lukman modus. Bilang saja mau minta nomor Fatma. Fatma nomor kamu sebutin tu! Siapa tahu kamu butuh bantuan untuk membuat aplikasi atau apalah. Mas Lukman itu jagonya!"
"Wah, pas banget itu. Aku pengen belajar edit gambar, boleh ya, Mas!" Wajah Fatma yang berseri-seri, sejenak menarik perhatian Lukman.
"Boleh," jawab Lukman cepat.
Setelah menyebutkan nomor hpnya, Fatma dan Aisyah segera undur diri dari hadapan Lukman.
Setelah kepergian Aisyah dan Fatma, Lukman merasa ada yang aneh dengan perasaannya. Seperti ada sesuatu yang menyelinap dalam hatinya, perasaan yang Lukman sendiri belum bisa mengartikannya.
***
"Ahmad, tolong kamu cek laporan yang dikirim Lukman tadi! perintah Azmi, kakak Ahmad.
"Baik, Mas." Ahmad mulai memeriksa laporan keuangan yang sudah dibuat Lukman.
Pondok pesantren sekaligus rumah yatim piatu yang dipimpin oleh Ustadz Azmi Huda itu memang menerapkan kedisiplinan yang sangat ketat, termasuk administrasi. Laporan yang jelas setiap bulannya, membuat donatur semakin percaya mengamanahkan hartanya ke pondok tersebut.
Para donatur kapan saja bisa berkunjung ke pondok untuk menyaksikan perkembangan dan kebermanfaatan harta yang mereka sumbangkan. Gaji untuk para pendidik dan pengelola, sudah ada tersendiri donaturnya. Seorang pemilik kebun sawit di Pulau Sumatera.
Di pondok itu, Ahmad sebagai tangan kanan kakaknya, membawahi tiga orang lainnya, yaitu Lukman di bagian keuangan, Faris di bagian SDM, dan Harun di bagian pengembangan usaha.
Pondok yang sudah berjalan selama dua puluh tahun ini dirintis oleh orang tua Ahmad, yang sekarang sudah tiada. Konon, perintis pondok ini ada dua orang, namun karena sesuatu hal, yang seorang lagi harus meninggalkan pondok, kembali ke kampung halamannya.
❤️❤️❤️
[Assalamualaikum, Ci?]
Wajah Fatma sumringah membaca pesan dari Ahmad. Setelah sekian purnama menunggu, akhirnya ada kabar darinya.
[Waalaikumsalam, Mas. Bagaimana kabarnya?]
[Baik, besok ketemu di tempat biasa, ya? Pulang kuliah!]
[Siap, Mas!]
[Ya, sudah. Assalamualaikum]
[Waalaikumsalam]
Fatma menatap hpnya, tidak ada bunyi lagi. Sepi. Fatma di kos sendirian, Aisyah pulang ke kampungnya hari Jumat sore, dan baru datang ke kos Senin pagi. Katanya, hari Senin kuliahnya siang.
Dulu sebelum memutuskan kuliah di Kota Atlas ini, orang tua Fatma berpesan agar ia berhati-hati memilih teman. Beruntung dia bertemu Aisyah, lalu berteman hingga sekarang.
Aisyah adalah anak bungsu dari tiga bersaudara. Kedua kakaknya sudah berkeluarga, semuanya laki-laki. Pada akhir pekan, biasanya Aisyah pulang kampung, tidak jarang, Fatma pun diajaknya. Di rumah Aisyah, Fatma seperti di rumah sendiri. Bahkan Fatma sudah dekat dengan keluarga Aisyah. Mereka senang kalau Fatma turut Aisyah pulang. Sikap Fatma yang supel dan sopan, membuat keluarga Aisyah senang kepadanya.
❤️❤️❤️
Mata kuliah hari ini sudah selesai, berarti saatnya Fatma bertemu dengan Ahmad. Dengan wajah ceria, Fatma keluar kelas. Penampilan Fatma yang berbeda, bukan hanya menarik perhatian teman sekelasnya, tapi dosennya juga heran. Fatma yang biasanya berpenampilan tomboi, sekarang tampil feminim. Namun belum bisa menutupi ketomboiannya secara sempurna. Langkah kaki Fatma masih seperti biasa, cepat dan lebar.
Tanpa Fatma sadari, ada sepasang mata yang memperhatikannya berjalan ke arah dimana ia berjanji dengan Ahmad. Seseorang itu tersenyum melihat Fatma, ada rona bahagia di wajahnya.
Sudah lima belas menit Fatma menunggu Ahmad, namun yang ditunggunya tidak juga muncul. Seperti sebelumnya, Fatma akan tetap menunggu tanpa menghubungi. Mereka punya kesepakatan dalam hal pertemuan, waktu menunggu maksimal tiga puluh menit. Jika belum tiga puluh menit, maka tidak perlu menghubungi, jika sudah lewat, maka yang menunggu akan memberi kabar kalau sudah meninggalkan tempat perjanjian. Aneh, ya?
Sepertinya, Fatma mulai lelah, ada rona kecewa di wajahnya. Bagaimana tidak, ia ingin memperlihatkan kepada Ahmad, kalau ia sudah menuruti untuk memakai rok.
Waktu menunggu sudah habis, tapi Fatma belum juga beranjak dari tempat duduknya, tidak juga ia menghubungi Ahmad. Tak terasa air matanya menetes membasahi buku yang ada di genggamannya.
Karena malu banyak orang yang lalu lalang, Fatma buru-buru menghapus air matanya. Ia beranjak, berjalan terburu-buru.
Fatma yang biasanya kuat, saat ini butuh penyangga, bukan penyangga tubuh, tapi penyangga hati. Sambil mendekap buku, sekali-kali tangannya menghapus air mata yang tidak juga berhenti mengalir. Tiba-tiba ia menabrak seseorang yang sengaja berhenti di depannya.
"Mas, Ahmad?" lirih Fatma. Ia berusaha meneruskan langkahnya, namun selalu dihadang oleh Ahmad.
"Maafkan saya ya, Ci!"
Ahh... Ahmad, dosa tau bikin anak orang nangis. Tanggung jawab noh, mana orang tuanya jauh lagi. Author kan jadi sedih, pengen peluk Mas Ahmad. Hahaha ...
Post a Comment