Part 1 (Full)
Fitnah
"Mamah … mamah muda, pengen mamah muda."
Seorang anak umur lima tahun sedang menirukan lagu yang diputar oleh orang tuanya, sambil berjoget.
Sementara ibunya sedang berbaring di depan tv memperhatikan biduan yg asyik bergoyang.
Di sebelah rumah, sang mertua, yang tinggal bersebelahan, sedang bergelung di balik selimut menahan sakit giginya.
"Menantu edun, orang tua sakit malah asyik musikan."
"Nah, bener itu, Nang. Biar saja ayahmu cari mamah muda," gumam ibu mertua.
Sambil tertatih, ibu mertua pun bangun membawa sapu menuju rumah menantunya.
"Megaaaa … matikan musikmu itu." Kata ibu mertua sambil memukul mukul pintu.
"Ada apa, Mak?" kata Mega, si menantu, sambil membuka pintu.
"Ka— kamu." Lalu ibu mertua pun pingsan.
"Lah, apa salahku, apa dosaku? Kenapa pingsan?" Mega bergumam sambil meraba pipinya untuk memastikan masker lumpurnya masih terpasang rapi.
😍😍😍
"Mas, kenapa ya, Mamak sepertinya nggak suka sama aku." Sambil memijit kaki suaminya, Mega mulai curhat.
"Enggak suka bagaimana, to?" jawab suami sambil asyik main hp.
"Ya enggak suka gitu, aku di rumah aja, katanya tumben di rumah, aku keluar rumah katanya perempuan kok keluyuran, aku setel musik, katanya berisik, aku matikan, katanya sepi kaya kuburan, aku masak katanya enggak enak, aku enggak masak, katanya malas, Lah aku kudu piye, Mas! Apa aku kudu ganti mertua?"
"Mulutmu itu kalau ngomong!" jawab sang suami masih fokus sama hp nya.
"Mas!" panggil Mega
"Apa!"
"Mas!" panggil Mega lebih keras lagi.
Rudi, suami Mega terkejut.
"Ada apa sih, Dek."
"Diajak ngomong malah asyik aja sama hp nya. Kamu itu kerja dari pagi sampai malam. Kalau sudah di rumah, jangan hp aja yang dilihat! Aku ini istrimu, Mas, juga butuh dipandang, disayang, dan ditimang lho, Mas!"
Rudi langsung meletakkan hp, diraih tangan istrinya. Tapi Mega yang sudah emosi menarik tangannya, mengangkat kaki Rudi yang tadi dipijat, lalu menghempaskanya ke lantai dengan sepenuh jiwa.
"Telat!" Mega lalu masuk ke kamar.
"Awwww!" Rudi kesakitan.
Melihat sang istri masuk kamar, Rudi kembali mengambil hpnya. Melanjutkan game yang tadi sempat tertunda. Ia memilih hpnya daripada harus menyusul istrinya ke kamar. Enam tahun berumah tangga, Rudi sangat paham dengan karakter istrinya itu. Jika sudah merajuk akan sulit dibujuk. Dia akan baik lagi tidak lebih dari 1x24 jam, jika lebih dari itu istrinya belum baikan, maka dia akan lapor Pak RT. Jiah ... macam tamu aja, Cung!
"Dasar suami enggak peka!" Di kamar, Mega sedang duduk di meja rias. Membersihkan make up yang sudah luntur oleh air mata. Eye shadow, blush on, lipstik, bercampur menjadi satu di wajahnya.
"Aduh, Mega! Hatimu boleh hancur, tapi wajahmu jangan! Eh, malah nyanyi." Mega menutup mulutnya, lalu melanjutkan tangisannya sambil membersihkan wajah.
***
"Mau kemana, Mbah?" sapa Sumi saat Mbah Surti, mertua Mega, lewat.
"Mau ke warung, beli garam. Rajin kamu, Mi. Pagi-pagi sudah kinclong aja halamannya."
"Halamannya kinclong, Mbah, tapi orangnya mblaus, belum mandi, hehe." Sumi berusaha bercanda.
"Jam segini kamu sudah siapan, Sum?" Mbah Surti kepo, sambil melirik jemuran Sumi yang sudah berpenghuni.
"Alhamdulillah sudah, Mbah. Menyapu halaman ini agenda penutup rutinitas saya setiap pagi, Mbah. Suami saya berangkat kerja pagi, harus bawa bekal. Anak saya yang sekolah juga kudu sarapan, Mbah."
"Yaa Allah, mantu idaman banget, kamu Sum!"
"Walah, Mbah, begini saja kadang-kadang masih kena semprot sama mertua!" Sumi menutup mulutnya, ia lupa, bisa bahaya kalau cerita sama Mbah Surti, bisa-bisa sampai ke telinga mertuanya nanti.
"Ya, sudah, aku mau beli garam dulu. Itu Rudi sebentar lagi mau berangkat, bontotnya belum mateng!"
"Lho, kok Mbah Surti yang menyiapkan bontot Rudi, istrinya kemana, Mbah?"
"Mega Mendung, tho? Waduh Sum, kalau mengandalkan dia, bisa tipes anakku. Pernah waktu aku sakit satu minggu, tahu enggak apa yang dibontotkan sama suaminya?"
"Enggak, Mbah!" Sumi menggeleng sambil berpikir, memang kebanyakan mertua tu seperti ini, nih. Suka mengenalkan keburukan menantunya pada orang lain.
"Masa setiap hari cuma dibontotin nasi, kecap, sama potongan timun, lauknya kadang telur dadar, kadang telur ceplok, kadang telur rebus. Lama-lama anakku bisa bisulan, kalau tiap hari makan telur. Untung Rudi orangnya sabar."
"Ya sudah, Mbah. Mungkin itu sudah jodoh dan rezeki Rudi beristrikan Mega. Katanya mau beli garam, nanti kesiangan lho, kasihan Rudi." Sumi berniat mengakhiri obrolan unfaedah ini.
"Ya sudah, aku pamit, assalamualaikum!"
"Waalaikumsalam," jawab Sumi lalu melanjutkan pekerjaannya menyapu halaman.
😍😍😍
Hari ini Mega nampak sibuk memasukkan pakaian kotor ke dalam plastik. Hari ini hari Kamis, saatnya mengantar pakaian ke laundry. Ada empat kantong besar sudah penuh sesak. Bahkan ada beberapa pakaian yang menyembul keluar. Untuk mengantar pakaian itu, Mega perlu tiga kali bolak-balik ke laundry.
Sampai rumah, Mega mendapati anaknya sedang makan dengan lauk semur ayam. Menu favorit Mega. Segera Mega mengambil piring lalu meluncur ke dapur mertuanya.
"Mak, oi Mamak sayang." Mega celingukan karena tidak ada Mamak Mertuanya di dapur.
"Mak, Mega ambil lauk, ya! Pandai Mamak masak, sampai cucu Mak nambah-nambah makannya." Tidak tanggung-tanggung, Mega mengambil tujuh potong ayam.
"Mak, masak banyak, enggak bakal marah lah, aku ambil tujuh potong," gumam Mega sambil keluar dapur mertuanya.
Mak Surti baru pulang dari kebun sebelah rumahnya, tangan kanannya menggenggam pucuk ubi, sementara tangan kirinya membawa batang ubi yang di bawahnya berisi umbi ubi yang besar-besar.
"Eh, siapa yang masuk rumah? Perasaan tadi pintu dapur sudah kututup?" Mak Surti bicara sendiri.
"Wah, ini tudung saji juga sudah geser, jangan-jangan kucing Mega yang masuk. Sudah dibilang, kalau pelihara kucing jangan banyak-banyak, ini kucing sampai sembilan belas ekor. Mantu gende**, kucing kok dikasih makan cuma dua kali, emang puasa, apa! Kayak gini jadinya, rumahku jadi enggak aman." Mak Surti ngomel sambil berjalan ke rumah Mega.
"Ga, oi Mega Mendung," teriak Mak Surti dari luar.
Mega yang baru selesai makan, segera keluar.
"Ada apa, Mak?"
"Makanya punya kucing itu dikasih makan tho, itu kucingmu masuk ke dapur Emak."
"Kucing mana yang masuk, Mak? Itu kucingku lho lagi pada di kamar enam, di ruang tamu ada tujuh, dan itu di pojokan dapur ada enam juga." Mega menjelaskan sambil menunjukkan kucingnya yang sedang makan tulang ayam.
"Lha, bener tho, itu pasti tulang ayam semurku." Mak Surti meneliti tulang ayam yang sedang diperebutkan kucing itu.
"Jangan fitnah, Mak. Kucingku tidak mengambil lauk Emak." Mega tidak terima kucingnya difitnah.
"Lha kalau bukan kucingmu siapa lagi, itu lho barang buktinya sudah jelas." Mak Surti tak mau kalah.
"Aku yang ambil ayam semur Emak. Kan tadi aku udah bilang," jawab Mega santai, sambil menjilati jari-jari tangannya. Rasa manis ayam semur masih terasa.
"Lha, kapan kamu bilang?"
"Tadi lho Mak, tapi Mamak enggak ada di rumah."
"Ya Allah, Yaa Gusti, mimpi apa aku punya mantu seperti ini!" Mak Surti berjalan pulang sambil memegangi kepalanya. Migrain Mak Surti kumat nich.
Mega hanya memandangi kepergian mertuanya sambil mengelus dada.
"Mimpi apa, aku punya mertua Mak Surti!"
karya : Enik Wahyuni
Post a Comment