Ketika Melahirkan Di Tempat Mertua


"Kapan kamu tak membuat repot rumah ini, Andira," Batinku geram. Setelah pulang dari rumah sakit dengan membayar obatnya yang sangat mahal. Kini Andira kembali membuat ulah dengan Ibu. Aku tak tahu pasti kejadiannya gimana, yang jelas ketika masuk ke dalam rumah posisi Ibu sudah berada di lantai seperti orang terjatuh. Entah terjatuh atau didorong Andira yang seperti kata Ibu, yang jelas Andira memang suka bikin onar.

"Kenapa kamu gemeteran gitu, kamu mau membunuh bayimu sendiri dengan meremasnya?" tanyaku pada Andira yang terlihat gemetaran. Menggendong bayinya saja seperti diremas.

"Kasihkan ke Ibu kalau kamu tak becus gendong, Andira," titahku. Karena lama-lama tak tega juga melihat bayi yang menggeliat di gendongan Andira. 

"Tidaaaakk!" 

Aku dan Ibu tercengang mendengar teriakan Andira. Rasanya baru kali ini Andira berteriak se-histeris ini. Tangannya semakin gemetar setelah aku meminta bayinya untuk dikasihkan ke Ibu. Suasana jadi mencekam melihat Andira seperti ini. Nampak Mbak Rosa dan Mas Rudi keluar dari kamar melihat apa yang terjadi, namun Andira semakin ketakutan hingga mundur pelan ke belakang. Akting apalagi yang akan dimainkan Andira kali ini? Bukankah wanita ini penuh tipu daya juga licik. Dalam hitungan hari saja sudah menguras ludes uangku. Sialan memang.

"Assalamualaikum," terdengar salam seseorang dari luar sehingga ketegangan mencair sejenak.

"Waalaikumsalam," jawab Ibu. Lantas Ibu membuka pintu untuk melihat siapa yang ingin bertamu kali ini.

Aku mendekati Andira agar menghentikan aktingnya yang berlebihan itu namun Andira berteriak kencang seakan aku ini hantu yang ingin memakannya. 

"Istrimu itu gila apa gimana sih, sukanya teriak aja bikin kupingku budek," sinis Mbak Rosa.

Aku semakin pusing melihat tingkahnya. Entahlah, drama apa yang dimainkannya kali ini, yang jelas diluar sedang ada tamu. Jelas untuk menengok bayi kami yang diremas Andira ini. Tapi anehnya, bayi ini hanya menggeliat saja, seakan nyaman sekali berada dibawah tekanan Andira seperti ini.

"Rangga, ini ada Bude Gina yang datang," ucap Ibu seolah tak terjadi apa-apa.

"Oh iya, Bude sehat?" ucapku pada Bude Gina setelah menyalaminya. Dan gantian juga Mbak Rosa dan Mas Rudi terlihat menyusul bergantian ingin menyalami Bude Gina.

Bude Gina ini adalah Kakak dari almarhum Bapak. Beliau yang membiayai seluruh pengobatan Bapak sewaktu Bapak masih hidup. Ibu sangat menyegani Bude Gina, tentu saja karena Bude Gina pernah menolong kami saat masa-masa sulit. Bahkan rumah ini hampir terjual, tapi lagi-lagi Bude Gina yang menolong kami.

"Loh, Andira sayang, kok kamu berdiri disitu? Sini, Sayang, Bude kangen sama kamu. Maaf ya, Bude baru sempat kesini," 

Mukaku menegang ketika Bude mendekati Andira. Begitu juga dengan Ibu, mukanya nampak tak biasa melihat Bude mendekati Andira. Memang dari dulu, Bude Gina ini sangat menyayangi Andira. 

"Jangan sentuh bayiku! Aku tak mau kalian menyentuh bayiku. Jangan sakiti bayiku," Setelah berteriak, Andira langsung ke kamar dan menguncinya dari dalam.

Kejadian itu sontak membuat Bude Gina menatapku dan Ibu secara bergantian. Seakan menyelidiki bahwa yang terjadi dengan Andira saat ini adalah salah kami. Pintar sekali kamu memainkan peranmu, Andira. Dasar wanita licik.

"Bisa dijelaskan, apa yang terjadi dengan Andira?" tanya Bude Gina.

"Sebaiknya Mbak Gina duduk dulu, pasti capek kan habis perjalanan jauh. Rosa, tolong buatkan minum untuk Budemu ini ya!" ucap Ibu yang berusaha untuk mengalihkan pembicaraan.

 Tapi Mbak Rosa terlihat enggan menuruti perintah Ibu. Biasanya Andira yang melayani Bude jika Bude berkunjung kesini. Mungkin Andira sekarang lagi cari aman, makanya kebanyakan akting. Kurang ajar memang lama-lama. 

Bude Gina mengikuti Ibu lalu duduk di sebelahnya. Rasa ketidakpuasan atas jawaban Ibu kentara sekali terlihat di raut wajah Bude Gina. Sialan memang Andira ini. 

"Rangga, tolong jawab pertanyaan Bude. Apa yang terjadi dengan Andira?"

 Kali ini Bude bertanya padaku. Kulirik Ibu, Ibu nampak melotot ke arahku. Aku harus jawab apa? Haruskah aku bilang Andira hanya akting? Pasti Bude tak akan percaya. Oh Andira, kenapa kamu selalu buat masalah seperti ini.

"Kalian ini masih punya kuping, kan?" Bude mulai meradang.

"Itu, Bude, Andira teriak-teriak kayak orang kesetanan. Mau gila kali," timpal Mbak Rosa yang datang membawakan minuman untuk Bude Gina.

"Iya, Bude tahu Andira teriak-teriak. Tadi Bude juga lihat sendiri. Yang Bude tanya, kenapa Andira bisa seperti itu?" Bude semakin meradang mendengar jawaban Mbak Rosa.

"Andira itu hanya akting di depan Bude, mungkin hanya mencari perhatian," ujarku. Biarlah Bude tahu, daripada nanti Bude semakin ngamuk. Menunggu respon Ibu, Ibu melempem saja sedari tadi.

"Akting? Apa maksudmu, Rangga?" Bude menatap nyalang ke arahku. Tuh kan, Bude mana percaya jika Andira dijelekin sedikit saja.

Bude melangkah ke arah meja dekat dapur, "Ini apa?" tanya Bude dengan membawa mangkuk kecil di hadapan kami. Kali ini tatapannya nyalang. Seakan ingin menerkam orang yang ada di hadapannya.

"Itu lumatan pisang, Mbak. Niatnya mau nyuapin cucu pake itu tapi Andira langsung merebut bayinya dan mendorongku. Mbak Gina belum tahu Andira aslinya seperti apa, kan. Dia tadi habis mendorongku, Mbak," keluh Ibu. Dah lah, Andira, mampus kamu sekarang. Pasti Bude akan marah dan kecewa sama kamu kali ini.

"Kamu mau nyuapin bayi yang baru berumur hitungan hari, Ranti?" Bude menatap tajam ke arah Ibu. Suaranya terdengar pelan namun tajam.

"Bayinya Andira semalem rewel, Mbak. Makanya aku berinisiatif ingin nyuapin cucuku dengan lumatan pisang ini biar kenyang. Kalau kenyang kan jadi gak rewel lagi, tapi Andira malah merebutnya dan mendorongku. Coba bilangin sama Mbak Gina aja, kan kalau sama Mbak, Andira mau nurut," ucap Ibu panjang lebar. Sepertinya Ibu menyebut, cucuku, tadi seolah menegaskan kalau Ibu adalah neneknya dan berhak ikut andil dalam bayi Andira. Namun Andira terlalu arogan, merasa paling berhak atas anaknya. 

"Otakmu sudah ditaruh dimana, Ranti! Bayi sekecil itu sudah mau kamu jejali pisang. Kamu gak mikir dampaknya apa?" Bude meradang hingga lantang sekali berucap seperti itu.

"Tapi,--"

"Tapi apa, Ranti? Pantas saja Andira seperti itu, kalian ternyata memang tak punya hati," sungut Bude. Lihatlah Andira, puas kamu melihat Bude marah seperti ini?

"Jangan kenceng-kenceng ngomongnya, Mbak. Malu sama tetangga," ucap Ibu pelan. Ibu pasti malu melihat Bude teriak-teriak seperti ini, apalagi aku.

"Masih punya malu kamu, Ranti. Kamu buat mantumu seperti itu, kenapa kamu tak malu?"

Kami semua terdiam mendengar ucapan Bude. Percuma juga untuk ditanggapi. Yang ada Bude malah semakin marah. Andira, awas kamu. Ini semua gara-gara kamu.

"Itu obat apa yang kamu pegang, Rangga?" Kali ini pertanyaan Bude mengarah padaku. 

"Obatnya Andira, Bude. Tadi Andira mengeluh sakit perut, ngajak periksa ke rumah sakit," ucapku sengaja. Biar saja, biar Andira dicap manja sama Bude. Tukang ngeluh sih.

"Astagfirullah …." Bude beristighfar. 

Terdengar helaan nafas berat sekali. Sepertinya Bude menyesal telah marah sama kami. Mampuslah kamu Andira, kali ini Bude yang akan memarahimu langsung. Makanya jangan kurang ajar.

karya : Enik Wahyuni

Post a Comment

Previous Post Next Post

Iklan In-Feed (homepage)

" target="_blank">Responsive Advertisement